Siang itu, 7 November 2009 sekitar pukul setengah dua, bangun tidur saya mendapati bahwa listrik belum kunjung menyala, menjengkelkan sekali karena listrik sudah mati sejak pagi, jam enaman lah kira-kira. Belakangan ini fenomena listrik mati memang sedang ngetrend, khusus di daerah saya tinggal sekarang (Tangerang) kejadian itu terjadi hampir setiap hari, durasinya juga tidak sebentar, paling cepat tiga-empat jam, kadang siang, kadang malam tidak bisa diprediksi. Kalau saya sih lebih suka matinya pas siang sebab segala aktivitas saya yang tidak berkaitan dengan listrik masih bisa saya lakukan tapi kalau malam, tau sendiri lah, gelap gulita, mau jalan aja susah. Katanya sih, ini merupakan imbas dari adanya kebijakan pemadaman bergilir yang terpaksa dilakukan PLN karena ada salah satu gardunya yang terbakar beberapa bulan yang lalu dan katanya lagi hal ini akan dilakukan hingga bulan Januari tahun depan dan itu artinya saat UTS tiba kejadian ini kemungkinan besar masih akan terjadi, nggak enak banget kan kalo pas malem-malem lagi belajar mata kuliah yang materinya banyak, yang jangankan diapalin, dibaca sehari aja nggak kelar terus mati lampu gitu aja,ah..jangan sampai lah pokoknya.
Siang itu juga, seperti biasa setiap hari sabtu siang sampai sore pasti banyak program-program olahraga kesayangan saya yang akan ditayangkan seperti Galeri Sepakbola Indonesia, One Stop Football,Kampiun Sepakbola Nasional dan Live ISL, tapi hari itu, pertandingan kualifikasi piala asia u-19 antara Indonesia melawan Singapura lah yang benar-benar saya nantikan. Itulah alasan utama yang menyebabkan hati ini begitu dongkol ketika mendapati bahwa sampai hampir jam setengah dua listrik belum juga nyala. Ekspektasi saya untuk menyaksikan penampilan perdana patriot-patriot muda Indonesia di negerinya sendiri setelah berguru selama dua tahun di Uruguay memang begitu tinggi, hari itu bahkan saya sampai menolak ajakan teman saya untuk jalan-jalan ke sebuah pameran komputer di JCC demi menyaksikan pertandingan itu (nggak lebay), terlebih setelah saya mendengar bahwa timnas u-19 yang baru berusia antara 16-17 tahun itu berhasil menduduki peringkat kedua Quinta Division Uruguay, lawan Singapura saya rasa kemenangan sudah ditangan. Alhamdulillah entah jam berapa, listrik akhirnya menyala juga. Pukul tiga, pertandingan dimulai, Indonesia tampak menguasai jalannya pertandingan, peluang pertama diciptakan dari tendangan kaki kiri adiknya Zaenal Arif, Yandi Sofyan, sayang masih melenceng disusul dengan peluang dari Syamsir Alam dan pemain-pemain lain, saya rasa di babak pertama Indonesia hanya kurang beruntung. Situasi agak berubah di babak kedua, tensi pertandingan meninggi, seorang pemain cadangan Singapura dikartu merah wasit, entah kenapa saya tidak tahu, sepertinya karena mengeluarkan kata-kata kasar, pertandingan mulai seimbang, Singapura mulai bisa menciptakan peluang sampai akhirnya sebuah perangkap offside yang gagal memudahkan pemain belakang Singapura untuk menceploskan bola ke gawang Indonesia. Setelah gol tersebut tercipta, tempo permainan melambat , Indonesia terus berusaha menyerang, sementara itu Singapura melakukan apa saja agar tidak kebobolan. Disinilah kejengkelan saya terhadap pemain Singapura itu bermula, pelanggaran keras, provokasi dan ulur-ulur waktu terus mereka lakukan. Dalam sepakbola, itu semua memang hal yang wajar namun saya pikir itu semua terlalu berlebihan. Terlebih upaya mereka untuk mengulur-ulur waktu, mereka seakan seperti banci, disenggol sedikit jatuh, kesakitan lalu tandu datang setelah itu mereka kembali ke lapangan, itu semua terjadi terus menerus sampai pertandingan berakhir, benar-benar menjengkelkan tempo dan pola permainan Indonesia menjadi kacau karena hal itu, emosi juga terpancing untung saja tidak ada pemain Indonesia yang sampai melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, dalam pengamatan saya justru pemain Singapura lah yang melakukan hal itu. Secara keseluruhan, saya memang agak kecewa dengan penampilan timnas u-19 tapi itu semua tidak mengurangi harapan saya kepada mereka untuk dapat lolos ke putaran final. Mereka punya potensi, pengalaman di Uruguay, skill bagus, dan postur yang lumayan. Semoga di pertandingan-pertandingan selanjutnya mereka bisa menang dan listrik juga tidak mati sehingga saya bisa menyaksikan pertandingan mereka. Amin.
