Gara-gara banyak temen yang bikin #junewish di twitter, saya jadi pingin ikut-ikutan bikin tapi karena wish saya terlalu banyak maka saya posting disini saja, hehe..
June Wish:
1. Sukses UTS, tidak cuma bagi saya tapi juga bagi anak STAN lainnya, amin Ya Allah..
2. Indonesia sapu bersih gelar Indonesia Super Series. Terlepas dari adanya isu bahwa pemain-pemain Cina nggak ada yang turun, terwujudnya hal itu tetap menjadi suatu harapan bagi saya dan pecinta bulutangkis lainnya setiap kali Indonesia SS digelar, hohoho..
3. Italy juara dunia lagi (agak maksa dikit karena finalnya bulan July, haha)
4. Masih berkaitan dengan Piala Dunia, wish saya yang ke empat adalah supaya Inggris dan Prancis tersingkir di penyisihan grup, hahaha entah kenapa dari dulu saya tidak suka dengan kedua negara itu ^^v
5. Hubungan saya dengan seorang teman kembali normal. Gara-gara kemarin Inter juara Liga Champions, hubungan saya dengan seorang teman yang awalnya memang sudah renggang menjadi tambah renggang, hehehe sorry pren saya cuma nggak tahan klub kesayangan saya dihina-hina dan dicela-cela begitu saja ^^v
6. Rahasia ![]()
Sepertinya itu saja, mungkin seiring dengan berjalannya waktu semua itu bisa bertambah tapi tidak bisa berkurang, hehehe.. semoga semuanya terkabul, Amin Ya Robbal Alamin..
Archive for Mei, 2010
Ceritanya lagi buka-buka soal IMMSI buat persiapan UTS..
Singkat cerita, saya menemukan kalimat-kalimat seperti ini..
“Kita akan mendapatkan 5 hal melalui 5 jalan..
Pertama, berkah dan rejeki akan diperoleh melalui shalat dhuha..
Kedua, cahaya dalam kubur melalui sholat tahajjud..
Ketiga, kemudahan dalam menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir melalui baca Qur’an..
Keempat, kemudahan melintasi siratal mustaqim melalui puasa dan sedekah..
Kelima, mendapat perlindungan Ilahi pada hari hisab melalui zikrullah..”
Sekian, semoga bermanfaat
Luar biasa memang tim Uber Korea itu. Diatas kertas, mereka kalah segala-galanya dari Cina tapi kita lihat sendiri, dengan perjuangan, kerja keras serta sikap pantang menyerah yang mereka tunjukkan mereka dapat membuktikan bahwa ungkapan “nothing is impossible” memang benar adanya, mereka berhasil merebut piala Uber untuk pertama kalinya. Tentu saja saya berharap tim Thomas Indonesia juga dapat melakukan hal yang sama tapi apa daya, Cina memang masih lebih unggul. Mengecewakan memang, tapi itulah kenyataannya, negeri ini harus bersabar minimal dua tahun lagi untuk dapat kembali memiliki piala Thomas dan piala Uber.
Selamat buat tim Thomas Cina dan tim Uber Korea, mereka memang yang terbaik..
Terimakasih untuk tim Thomas dan tim Uber Indonesia atas perjuangan yang telah ditunjukkan, maksimal atau tidak maksimal, itulah hasil yang telah didapat. Segera lakukan evaluasi, terus berusaha, lakukan yang terbaik, insyaAllah dua tahun lagi, kedua piala itu akan kembali negeri ini. Nothing is impossible. Amin..
Akhirnya momen dua tahunan itu kembali datang. Momen apa? Apalagi kalau bukan Piala Thomas-Uber yang kali ini akan diselenggarakan di negerinya Siti Nurhaliza, Malaysia. Selalu ada rasa senang sekaligus rasa gelisah ketika event dua tahunan itu datang. Senang karena sebagai pecinta bulutangkis saya akan kembali dapat menyaksikan pertandingan bulutangkis live di televisi, yang mana kita ketahui sendiri amat sangat susah didapatkan di negara ini. Gelisah karena kondisi perbulutangkisan kita yang akhir-akhir ini begitu minim prestasi yang akhirnya memunculkan pesimisme terhadap upaya untuk dapat kembali mengembalikan kedua piala itu ke negeri ini. Pesimisme yang menurut saya merupakan hal yang wajar jika melihat kekuatan negara-negara pesaing terutama Cina. Namun, tentu saja pesimisme itu tidak mengurangi ekspektasi saya akan keberhasilan tim Indonesia untuk dapat kembali membawa pulang kedua piala itu. Mungkin terlalu naif rasanya jika ekspektasi itu ditujukan kepada tim Uber yang mana jika dibandingkan dengan Cina, maaf saja, perbedaannya sangat jauh, bagaikan langit dan bumi. Sebagai perbandingan, tunggal pertama kita, Maria Febe Kusumastuti hanya berada di peringkat ke-20 dunia sedangakan Cina membawa empat pemain tunggal yang semuanya berada di jajaran sepuluh besar, tiga diantaranya bahkan menempati urutan teratas belum lagi di sektor ganda dimana sekali lagi kita harus mengakui bahwa kita masih berada dibawah Cina. Jadi rasa-rasanya, bagi tim Uber, masuk final merupakan target yang paling realistis. Untuk tim Thomas, terlepas dari prestasi individu pemain-pemainnya yang belakangan ini tidak bisa dikatakan membanggakan, target untuk kembali menjadi juara menurut saya harus tetap dicanangkan. Tidak hanya karena kita memiliki tradisi yang bagus dengan telah 13 kali juara tetapi juga karena target itu memang masih sangat realistis untuk dapat dicapai. Tidak seperti tim Uber, kekuatan di bagian putra ini memang lebih merata walaupun kembali kita harus mengakui bahwa Cina masih sedikit berada dia atas kita. Pemain-pemain seperti Taufik, Sony, Simon dan Kido/Hendra serta muka baru tapi lama, Nova Widianto yang kini dipasangkan dengan M. Ahsan saya rasa bisa menjadi jaminan bahwa piala Thomas masih dapat direbut. Realistis atau tidak realistis, semuanya kembali pada pemain itu sendiri, bagaimana pemain itu bisa mempersiapkan diri secara maksimal baik fisik maupun mental sehingga dirinya benar-benar siap saat bertanding dan dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya di lapangan. Sayangnya, hal itu sepertinya tidak terjadi, Taufik Hidayat, seperti yang pernah saya dengar, mengatakan bahwa persiapan tim tidak terlalu bagus, begitu juga ketika saya melihat beberapa anggota tim Uber yang di hari-hari terakhir sebelum berangkat ke Malaysia justru rajin nongol di televisi.
Analisis kacangan saya tersebut memang tidak bisa menggambarkan secara gamblang bagaimana sebenarnya kekuatan yang dimiliki tim Thomas maupun tim Uber kita. Namun, kembali kepada status saya sebagai pecinta bulutangkis yang haus akan prestasi dan hanya bisa berekspektasi, saya hanya bisa berharap bahwa seluruh pemain yang bertanding dapat mengeluarkan segenap kemampuan terbaiknya, tampil penuh semangat, tidak kalah sebelum bertanding sekaligus pecaya akan ungkapan “Nothing is Impossible”, sebuah ungkapan yang saya sendiri belum 100% meyakininya namun sudah sering terbukti kebenarannya apalagi di dunia olahraga.
Tim Thomas-Uber Indonesia:
Tim Thomas:
Tunggal Putra: Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka.
Ganda Putra: Markis Kido, Hendra Setiawan, Nova Widianto, Mohammad Ahsan, Alvent Yulianto, Hendra Aprida Gunawan.
Tim Uber:
Tunggal Putri: Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, Maria Kristin, Linda Weni Fanetri,
Ganda Putri: Greysia Polii, Nitya Krishinda, Shendy Puspa Irawati, Meiliana Jauhari, Liliyana Natsir, Anneke Feinya Agustin.


