Latest Entries »

June Wish..

Gara-gara banyak temen yang bikin #junewish di twitter, saya jadi pingin ikut-ikutan bikin tapi karena wish saya terlalu banyak maka saya posting disini saja, hehe..
June Wish:
1. Sukses UTS, tidak cuma bagi saya tapi juga bagi anak STAN lainnya, amin Ya Allah..
2. Indonesia sapu bersih gelar Indonesia Super Series. Terlepas dari adanya isu bahwa pemain-pemain Cina nggak ada yang turun, terwujudnya hal itu tetap menjadi suatu harapan bagi saya dan pecinta bulutangkis lainnya setiap kali Indonesia SS digelar, hohoho..
3. Italy juara dunia lagi (agak maksa dikit karena finalnya bulan July, haha)
4. Hubungan saya dengan seorang teman kembali normal. Gara-gara kemarin Inter juara Liga Champions, hubungan saya dengan seorang teman yang awalnya memang sudah renggang menjadi tambah renggang, hehehe sorry pren saya cuma nggak tahan klub kesayangan saya dihina-hina dan dicela-cela begitu saja ^^v
5. Rahasia 😀
Sepertinya itu saja, mungkin seiring dengan berjalannya waktu semua itu bisa bertambah tapi tidak bisa berkurang, hehehe.. semoga semuanya terkabul, Amin Ya Robbal Alamin.. 😀

Ceritanya lagi buka-buka soal IMMSI buat persiapan UTS..
Singkat cerita, saya menemukan kalimat-kalimat seperti ini..

“Kita akan mendapatkan 5 hal melalui 5 jalan..
Pertama, berkah dan rejeki akan diperoleh melalui shalat dhuha..
Kedua, cahaya dalam kubur melalui sholat tahajjud..
Ketiga, kemudahan dalam menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir melalui baca Qur’an..
Keempat, kemudahan melintasi siratal mustaqim melalui puasa dan sedekah..
Kelima, mendapat perlindungan Ilahi pada hari hisab melalui zikrullah..”

Sekian, semoga bermanfaat 😀

Untitled..

*Kondisi mental sedang agak terganggu, harap maklum*

Yeah, Nothing is Impossible!

Luar biasa memang tim Uber Korea itu. Diatas kertas, mereka kalah segala-galanya dari Cina tapi kita lihat sendiri, dengan perjuangan, kerja keras serta sikap pantang menyerah yang mereka tunjukkan mereka dapat membuktikan bahwa ungkapan “nothing is impossible” memang benar adanya, mereka berhasil merebut piala Uber untuk pertama kalinya. Tentu saja saya berharap tim Thomas Indonesia juga dapat melakukan hal yang sama tapi apa daya, Cina memang masih lebih unggul. Mengecewakan memang, tapi itulah kenyataannya, negeri ini harus bersabar minimal dua tahun lagi untuk dapat kembali memiliki piala Thomas dan piala Uber.

Selamat buat tim Thomas Cina dan tim Uber Korea, mereka memang yang terbaik..

Terimakasih untuk tim Thomas dan tim Uber Indonesia atas perjuangan yang telah ditunjukkan, maksimal atau tidak maksimal, itulah hasil yang telah didapat. Segera lakukan evaluasi, terus berusaha, lakukan yang terbaik, insyaAllah dua tahun lagi, kedua piala itu akan kembali negeri ini. Nothing is impossible. Amin..

Akhirnya momen dua tahunan itu kembali datang. Momen apa? Apalagi kalau bukan Piala Thomas-Uber yang kali ini akan diselenggarakan di negerinya Siti Nurhaliza, Malaysia. Selalu ada rasa senang sekaligus rasa gelisah ketika event dua tahunan itu datang. Senang karena sebagai pecinta bulutangkis saya akan kembali dapat menyaksikan pertandingan bulutangkis live di televisi, yang mana kita ketahui sendiri amat sangat susah didapatkan di negara ini. Gelisah karena kondisi perbulutangkisan kita yang akhir-akhir ini begitu minim prestasi yang akhirnya memunculkan pesimisme terhadap upaya untuk dapat kembali mengembalikan kedua piala itu ke negeri ini. Pesimisme yang menurut saya merupakan hal yang wajar jika melihat kekuatan negara-negara pesaing terutama Cina. Namun, tentu saja pesimisme itu tidak mengurangi ekspektasi saya akan keberhasilan tim Indonesia untuk dapat kembali membawa pulang kedua piala itu. Mungkin terlalu naif rasanya jika ekspektasi itu ditujukan kepada tim Uber yang mana jika dibandingkan dengan Cina, maaf saja, perbedaannya sangat jauh, bagaikan langit dan bumi. Sebagai perbandingan, tunggal pertama kita, Maria Febe Kusumastuti hanya berada di peringkat ke-20 dunia sedangakan Cina membawa empat pemain tunggal yang semuanya berada di jajaran sepuluh besar, tiga diantaranya bahkan menempati urutan teratas belum lagi di sektor ganda dimana sekali lagi kita harus mengakui bahwa kita masih berada dibawah Cina. Jadi rasa-rasanya, bagi tim Uber, masuk final merupakan target yang paling realistis. Untuk tim Thomas, terlepas dari prestasi individu pemain-pemainnya yang belakangan ini tidak bisa dikatakan membanggakan, target untuk kembali menjadi juara menurut saya harus tetap dicanangkan. Tidak hanya karena kita memiliki tradisi yang bagus dengan telah 13 kali juara tetapi juga karena target itu memang masih sangat realistis untuk dapat dicapai. Tidak seperti tim Uber, kekuatan di bagian putra ini memang lebih merata walaupun kembali kita harus mengakui bahwa Cina masih sedikit berada dia atas kita. Pemain-pemain seperti Taufik, Sony, Simon dan Kido/Hendra serta muka baru tapi lama, Nova Widianto yang kini dipasangkan dengan M. Ahsan saya rasa bisa menjadi jaminan bahwa piala Thomas masih dapat direbut. Realistis atau tidak realistis, semuanya kembali pada pemain itu sendiri, bagaimana pemain itu bisa mempersiapkan diri secara maksimal baik fisik maupun mental sehingga dirinya benar-benar siap saat bertanding dan dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya di lapangan. Sayangnya, hal itu sepertinya tidak terjadi, Taufik Hidayat, seperti yang pernah saya dengar, mengatakan bahwa persiapan tim tidak terlalu bagus, begitu juga ketika saya melihat beberapa anggota tim Uber yang di hari-hari terakhir sebelum berangkat ke Malaysia justru rajin nongol di televisi.
Analisis kacangan saya tersebut memang tidak bisa menggambarkan secara gamblang bagaimana sebenarnya kekuatan yang dimiliki tim Thomas maupun tim Uber kita. Namun, kembali kepada status saya sebagai pecinta bulutangkis yang haus akan prestasi dan hanya bisa berekspektasi, saya hanya bisa berharap bahwa seluruh pemain yang bertanding dapat mengeluarkan segenap kemampuan terbaiknya, tampil penuh semangat, tidak kalah sebelum bertanding sekaligus pecaya akan ungkapan “Nothing is Impossible”, sebuah ungkapan yang saya sendiri belum 100% meyakininya namun sudah sering terbukti kebenarannya apalagi di dunia olahraga.

Tim Thomas-Uber Indonesia:

Tim Thomas:
Tunggal Putra: Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka.
Ganda Putra: Markis Kido, Hendra Setiawan, Nova Widianto, Mohammad Ahsan, Alvent Yulianto, Hendra Aprida Gunawan.

Tim Uber:
Tunggal Putri: Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, Maria Kristin, Linda Weni Fanetri,
Ganda Putri: Greysia Polii, Nitya Krishinda, Shendy Puspa Irawati, Meiliana Jauhari, Liliyana Natsir, Anneke Feinya Agustin.

Mau ngupdate nih ceritanya.  Sudah lama sekali rasanya nggak ngupdate blog ini. Ada banyak alasan yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, nggak ada inspirasi. Kedua, malas. Ketiga, ada inspirasi tapi malas. Keempat, nggak ada inspirasi dan malas, hahaha.. Malas disini maksudnya, selain malas nulis juga malas ke warnet. Hah? Ke warnet? Iya, berhubung di kosan saya nggak ada koneksi internet maka saya harus ke warnet untuk memposting tulisan saya, hahaha.. tapi, itu dulu, sekarang sudah nggak lagi. Berkat kebaikan hati dari teman saya yang mau ngebeliin saya modem (bentar2..lebih tepatnya saya titipin duit buat ngebeliin modem), sekarang saya bisa internetan kapan saja langsung dari kamar kosan saya, wohoho..sesuatu yang sudah saya impikan sejak jaman dahulu kala (lebay jijik). Hmm, sepertinya, cukup itu saja yang saya ungkapkan dalam postingan saya kali ini. Sekian, terimakasih, nantikan postingan2 saya selanjutnya ^^

Siang itu, 7 November 2009 sekitar pukul setengah dua, bangun tidur saya mendapati bahwa listrik belum kunjung menyala, menjengkelkan sekali karena listrik sudah mati sejak pagi, jam enaman lah kira-kira. Belakangan ini fenomena listrik mati memang sedang ngetrend, khusus di daerah saya tinggal sekarang (Tangerang) kejadian itu terjadi hampir setiap hari, durasinya juga tidak sebentar, paling cepat tiga-empat jam, kadang siang, kadang malam tidak bisa diprediksi. Kalau saya sih lebih suka matinya pas siang sebab segala aktivitas saya yang tidak berkaitan dengan listrik masih bisa saya lakukan tapi kalau malam, tau sendiri lah, gelap gulita, mau jalan aja susah. Katanya sih, ini merupakan imbas dari adanya kebijakan pemadaman bergilir yang terpaksa dilakukan PLN karena ada salah satu gardunya yang terbakar beberapa bulan yang lalu dan katanya lagi hal ini akan dilakukan hingga bulan Januari tahun depan dan itu artinya saat UTS tiba kejadian ini kemungkinan besar masih akan terjadi, nggak enak banget kan kalo pas malem-malem lagi belajar mata kuliah yang materinya banyak, yang jangankan diapalin, dibaca sehari aja nggak kelar terus mati lampu gitu aja,ah..jangan sampai lah pokoknya.

Siang itu juga, seperti biasa setiap hari sabtu siang sampai sore pasti banyak program-program olahraga kesayangan saya yang akan ditayangkan seperti Galeri Sepakbola Indonesia, One Stop Football,Kampiun Sepakbola Nasional dan Live ISL, tapi hari itu, pertandingan kualifikasi piala asia u-19 antara Indonesia melawan Singapura lah yang benar-benar saya nantikan. Itulah alasan utama yang menyebabkan hati ini begitu dongkol ketika mendapati bahwa sampai hampir jam setengah dua listrik belum juga nyala. Ekspektasi saya untuk menyaksikan penampilan perdana patriot-patriot muda Indonesia di negerinya sendiri setelah berguru selama dua tahun di Uruguay memang begitu tinggi, hari itu bahkan saya sampai menolak ajakan teman saya untuk jalan-jalan ke sebuah pameran komputer di JCC demi menyaksikan pertandingan itu (nggak lebay), terlebih setelah saya mendengar bahwa timnas u-19 yang baru berusia antara 16-17 tahun itu berhasil menduduki peringkat kedua Quinta Division Uruguay, lawan Singapura saya rasa kemenangan sudah ditangan. Alhamdulillah entah jam berapa, listrik akhirnya menyala juga. Pukul tiga, pertandingan dimulai, Indonesia tampak menguasai jalannya pertandingan, peluang pertama diciptakan dari tendangan kaki kiri adiknya Zaenal Arif, Yandi Sofyan, sayang masih melenceng disusul dengan peluang dari Syamsir Alam dan pemain-pemain lain, saya rasa di babak pertama Indonesia hanya kurang beruntung. Situasi agak berubah di babak kedua, tensi pertandingan meninggi, seorang pemain cadangan Singapura dikartu merah wasit, entah kenapa saya tidak tahu, sepertinya karena mengeluarkan kata-kata kasar, pertandingan mulai seimbang, Singapura mulai bisa menciptakan peluang sampai akhirnya sebuah perangkap offside yang gagal memudahkan pemain belakang Singapura untuk menceploskan bola ke gawang Indonesia. Setelah gol tersebut tercipta, tempo permainan melambat , Indonesia terus berusaha menyerang, sementara itu Singapura melakukan apa saja agar tidak kebobolan. Disinilah kejengkelan saya terhadap pemain Singapura itu bermula, pelanggaran keras, provokasi dan ulur-ulur waktu terus mereka lakukan. Dalam sepakbola, itu semua memang hal yang wajar namun saya pikir itu semua terlalu berlebihan. Terlebih upaya mereka untuk mengulur-ulur waktu, mereka seakan seperti banci, disenggol sedikit jatuh, kesakitan lalu tandu datang setelah itu mereka kembali ke lapangan, itu semua terjadi terus menerus sampai pertandingan berakhir, benar-benar menjengkelkan tempo dan pola permainan Indonesia menjadi kacau karena hal itu, emosi juga terpancing untung saja tidak ada pemain Indonesia yang sampai melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, dalam pengamatan saya justru pemain Singapura lah yang melakukan hal itu. Secara keseluruhan, saya memang agak kecewa dengan penampilan timnas u-19 tapi itu semua tidak mengurangi harapan saya kepada mereka untuk dapat lolos ke putaran final. Mereka punya potensi, pengalaman di Uruguay, skill bagus, dan postur yang lumayan. Semoga di pertandingan-pertandingan selanjutnya mereka bisa menang dan listrik juga tidak mati sehingga saya bisa menyaksikan pertandingan mereka. Amin.

 

Hari jum’at, 6 November 2009, bersama sekitar 60 an mahasiswa lainnya, saya menyempatkan diri berkunjung ke gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan Pengawas Pasar Modal – Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Kunjungan yang bertajuk “Investour Goes to BEI and Bapepam-LK” ini merupakan acara yang diadakan oleh Capital Market Club (CMC) STAN, walaupun sebenarnya saya juga ingin menambah wawasan saya tentang pasar modal melalui seminar-seminar yang diadakan di kedua gedung itu, tujuan  saya mengikuti acara ini sebenarnya hanyalah umtuk  menyaksikan secara langsung seperti apa bentuk gedung yang tiap harinya (kecuali hari sabtu dan minggu serta hari libur nasional) menjadi tempat terjadinya transaksi bernilai triliunan rupiah dan juga gedung tempat berlokasinya badan yang mengatur dan mengawasi transaksi-transaksi itu berada sekaligus untuk mengisi waktu luang yang terlampau banyak karena dalam seminggu kuliah hanya dilakukan dua hari akibat adanya renovasi besar-besaran di kampus. Agak aneh memang, kampus terkesan lebih mementingkan pembangunan fisik daripada pelayanan terhadap para mahasiswanya, tapi saya yakin maksud sebetulnya pasti tidak seperti itu. Lanjut lagi tentang kunjungannya, dalam seminar yang diadakan baik di BEI maupun Bapepam-LK dijelaskan tentang seluk beluk pasar modal dan berbagai peraturan yang mengaturnya. Seminar di Bapepam – LK saya pikr lebih menarik, lebih santai dan yang paling penting, terdapat snack yang dihidangkan, tidak seperti ketika di BEI,haha.. dua pegawai Bapepam-LK yang merupakan alumnus STAN menjadi pembicara dalam seminar yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut, mereka berhasil membuat suasana menjadi lebih hidup,berbagai pertanyaan datang silih berganti tetapi dapat mereka jawab dengan lugas dan cerdas serta dengan diselingi guyonan yang tidak norak sehingga membuat suasana menjadi benar-benar hidup, menyenangkan dan penuh keakraban, halah lebay.. Adapun saya, seperti biasa, kalau ada acara-acara yang ada tanya jawabnya seperti ini, termasuk ketika presentasi di kelas pasti sebagian besar tersebut berakhir tanpa adanya pertanyaan dari saya. Namun jujur, kali ini saya benar-benar tidak bisa membuat pertanyaan, saya kurang bisa menangkap materi yang disampaikan, selain karena memang sudah tidak ada niat untuk memperhatikan, kebiasaan melek sampai larut malam akhir-akhir ini membuat mata saya terasa amat berat, ngantuk sekali, jadi, kendati sudah disediakan souvenir-souvenir cantik bagi yang bertanya, saya tetap tidak mau bertanya karena saya memang tidak bisa membuat pertanyaan,haha..Satu hal penting yang saya dapatkan dari kedua seminar itu adalah adanya suatu fakta bahwa jumlah orang Indonesia yang berinvestasi dalam bursa pasar modal hanya sebesar kurang lebih 0,6 % dari total keseluruhan warga negara Indonesia, kalah jauh dari Malaysia yang mencapai sekitar 7 % (cmiiw) yang sebenarnya dulu belajar dari kita. Itu juga menunjukan bahwa padar modal kita lebih dikuasai oleh orang-orang asing sehingga ketika terjadi krisis seperti tahun 2008 lalu, IHSG bisa langsung anjlok karena orang-orang asing itu lebih mementingkan cash mereka (cmiiw lagi). Pada akhir seminar, pembicara menyarankan agar kalau bisa mahasiswa-mahasiswa seperti saya ini dapat ikut berinvestasi dalam pasar modal baik melalui reksadana maupun melalui instrumen investasi  lainnya. Acara selesai sekitar pukul 15.45, setelah sholat ashar rombongan pulang dan sampai di kampus kira-kira pukul setengah tujuh malam. Sebuah pengalaman yang lumayan menyenangkan 🙂

One Moment in Time

Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman sekelas nonton live Kick Andy di Metro TV. Di acara itu, saya mendengar sebuah lagu yang sudah agak lama tidak saya dengar, lagunya para atlet, lagunya Whitney Houston, One Moment in Time. Lagu yang menurut saya sangat inspiratif dan motivatif *gaya Hardimen Koto, haha*, mengingatkan saya akan arti sebuah kemenangan dan perjuangan untuk meraihnya. Mengenai bagaimana pengalaman saya selama menonton acara Kick Andy tersebut, saya rasa tidak perlu saya ceritakan (siapa pula yang mau diceritain? -__-).

Each day I live
I want to be a day to give the best of me
I’m only one, but not alone
My finest day is yet unknown
I broke my heart for every gain
To taste the sweet, I faced the pain
I rise and fall,
Yet through it all this much remains

I want one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams
Are a heart beat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel, I will feel eternity

I’ve lived to be the very best
I want it all, no time for less
I’ve laid the plans
Now lay the chance here in my hands

Give me one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams
Are a heart beat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel, I will feel eternity

You’re a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time
Make it shine

Give me one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams
Are a heart beat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I’m racing with destiny
Then in that one moment of time
I will be, I will be, I will be free,
I will be free

3+2=…?

Menarik sekali menyoroti regulasi baru BLI untuk ISL musim depan yang mengatur bahwa dalam satu klub, pemain asing yang boleh dimainkan jumlahnya tetap lima hanya saja dua diantara lima pemain asing itu harus berasal dari negara yang merupakan anggota AFC dan juga harus berstatus sebagai pemain tim nasional di negaranya tersebut. Terkait dengan hal itu,ekspektasi terhadap ISL yang akan lebih berwarna dan kompetitif di musim depan tentu saja muncul. Membosankan rasanya melihat pemain asing di liga kita hanya diisi oleh pemain-pemain yang berasal dari amerika latin dan afrika,hanya sedikit yang berasal dari Asia maupun Eropa. Sepengetahuan saya, musim lalu tercatat hanya ada tiga pemain asal AFC yang berlaga di ISL yaitu gelandang Persijap Jepara asal Thailand,Phaitoon Thiabma,pemain naturalisasi Singapura, Itimi Dickson yang bermain di Persitara Jakarta Utara dan pemain Australia yang membela Persiba Balikpapan, Robby Gaspar namun, ketiganya juga tidak berstatus sebagai anggota timnas negaranya. Phaitoon dan Dickson memang pernah menjadi anggota skuad timnas Thailand dan Singapura tetapi belakangan ini,termasuk dalam Piala AFF 2008 lalu, nama keduanya tidak lagi tercantum dalam line up tim Gajah Putih maupun The Lions sedangkan Robby Gaspar, rasa-rasanya saya belum pernah melihat dan mendengar dia pernah membela The Socceroos dalam suatu ajang. Dengan diterapkannya regulasi tersebut maka otomatis pintu bagi pemain-pemain asing asal asia untuk berlaga di ISL semakin terbuka. Namun, pertanyaanya sekarang adalah apakah pemain tersebut mau bermain di liga Indonesia? Kalau pemain-pemain itu berasal dari negara-negara raksasa asia macam Jepang, Australia, Korea, Iran,Cina,dll mungkin jawabannya jelas tidak. Namun,hal itu belum tentu berlaku bagi pemain-pemain yang berasal dari negara-negara ASEAN. Seperti yang saya dengar tadi siang di suatu program berita sepakbola nasional, beberapa pemain asal ASEAN mengaku tertarik bermain di Indonesia, salah satunya adalah kiper Singapura,yang pernah masuk nominasi pemain terbaik asia, Lionel Lewis. Pemain yang kini sedang menjadi incaran Persija ini mengaku ingin merasakan atmosfer liga Indonesia yang dalam setiap pertandingannya selalu dipenuhi penonton.

Berbicara soal incar-mengincar,selain Persija, beberapa klub lain juga tidak mau kalah untuk mengincar pemain asal asia guna memenuhi kuota lima pemain asing yang diijinkan. Adapun klub yang menurut saya paling impresif dalam melakukan hal itu adalah klub yang baru promosi, Persisam Samarinda. Setelah mengontrak beberapa pemain lokal berkualitas dan tiga pemain asing termasuk pemain tenar macam Danilo Fernando dan Ronal Fagundez, kini klub kaya raya yang katanya ikut disponsori oleh beberapa pengusaha batubara asal Kaltim itu sedang mengincar dua pemain Thailand yaitu striker Teerasil Dangda dan gelandang Datsakorn Thonglao. Klub kaya raya lainnya, Pelita Jaya konon sudah mendapatkan striker temperamental Singapura yang di Piala AFF 2007 pernah dengan sengaja menyikut kening Erol Iba hingga berdarah-darah, M. Noh Alam Syah. Pemain lain yang katanya ikut diincar oleh klub-klub ISL adalah beberapa pemain naturalisasi asal Singapura seperti Daniel Benett, Mustafic Fahrudin, Shi Jia Yi, dan Agu Chasmir serta striker asal Vietnam yang kini berstatus sebagai pemain termahal Asia Tenggara, Lee Cong Vinh dan mantan kiper Persib Kosin Hataaiarattanakool (ejaannya bener nggak ya? ^_^). Selain itu menurut berita yang saya dengar, juga ada pemain asal Korea dan Cina yang menjadi incaran, sayang nama pemain tersebut tidak disebutkan.

Seperti biasa, kebijakan-kebijakan BLI seringkali menimbulkan kontroversi, demikian juga dengan regulasi 3+2 ini. Ada yang beranggapan bahwa kualitas liga Indonesia di musim depan akan menurun karena kualitas pemain asia dianggap masih berada dibawah pemain asal amerika latin maupun afrika. Beberapa klub juga merasa kesulitan untuk mendapatkan jasa pemain asal asia. Menanggapi hal ini, BLI membantahnya, menurut BLI, hal itu dilakukan untuk mengikuti regulasi serupa yang telah diterapkan oleh AFC kendati belum bersifat wajib, klub yang berlaga di Liga Champions Asia maupun Piala AFC juga akan mendapat keuntungan jika memenuhi syarat dalam regulasi tersebut , klub tersebut dapat menurunkan empat pemain asing sekaligus dalam satu laga dari yang tadinya hanya dibolehkan menurunkan tiga jika kesemuanya berstatus non-asia,kualitas kompetisi pun akan tetap terjaga karena pemain asal asia yang didatangkan merupakan pemain berkualitas tim nasional yang skillnya tidak kalah dengan skill pemain asal amerika latin maupin afrika, harga pemain asal asia itu katanya juga lebih murah, selain itu akan ada peluang ISL akan ditayangkan di luar negeri. Kalau saya pribadi lebih setuju dengan BLI kecuali poin yang terakhir (masa sih ISL bakal tayang di luar negeri?). Akan lebih menarik rasanya jika di ISL terdapat nama-nama seperti Lionel Lewis, Noh Alamsyah,Teerasil Dangda, Datsakorn Thonglao, Lee Cong Vinh dkk serta tidak menutup kemungkinan pemain dari negara ASEAN lain, kendati berstatus “antah berantah” semacam Myanmar, Laos, dan Kamboja bahkan tidak menutup kemungkinan pula pemain-pemain “gila” yang mau bermain di liga kita asal negara-negara raksasa sepakbola asia semisal Jepang, Korea atau Cina. Bagi saya itu membanggakan, ada suatu kesan bahwa hal itu akan semakin menegaskan bahwa liga Indonesia memang yang terbaik kendati masih di kawasan asia tenggara. Kalaupin kuota lima pemain asing itu tidak terpenuhi karena terlalu sedikit pemain asing asal negara-negara anggota AFC yang mau bermain di Indonesia, masih ada keuntungan yang dapat diambil karena dengan lowongnya jatah satu atau dua pemain asing tersebut maka akan menambah kesempatan bagi pemain lokal untuk ikut berlaga di liganya sendiri. Akan lebih menguntungkan lagi jika pemain lokal tersebut adalah pemain muda yang berbakat yang dengan kesempatannya untuk bermain itu akan menambah pengalaman serta mental bertandingnya,dua hal yang menurut saya menjadi kendala tersendiri bagi kebanyakan pemain muda berbakat di timnas Indonesia untuk maju. So, apa yang akan terjadi di ISL musim depan setelah diterapkannya regulasi 3+2 ini? Tunggu saja tanggal mainnya (sayang tanggal mainnya belum ditentukan oleh BLI.. XD)